Tampilkan postingan dengan label wirausaha sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wirausaha sukses. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 November 2007

Empat Langkah Mewaralabakan Usaha


Ketika Anda telah memutuskan mewaralabakan usaha sebagai jalan memperluas operasi dan kepuasan sehingga Anda akan membuat sebuah franchisor yang sesuai, kemudian mengikuti langkah kebutuhan untuk diikuti, yakinkan bahwa langkah tersebut sukses untuk keduanya, franchisor dan franchisee.

Langkah pertama. Dalam menciptakan sebuah sistem franchise atau waralaba adalah untuk menilai sehat atau tidak sehatnya bisnis tertentu untuk diwaralabakan. Studi kelayakan seharusnya:

1. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan bisnis

2. Menentukan fitur penting pada bisnis yang dapat diduplikasi

3. Menganalisis perdagangan terakhir untuk menilai apakah bisnis dapat mendukung keduanya yaitu franchisor dan franchisee sebagai kesatuan yang menguntungkan atau tidak

Langkah kedua. Pengembangan Program dan Sistem Franchise

Langkah kedua dalam membentuk sebuah sistem franchise adalah penetapan program franchise yang sesuai. Penentuan langkah ini strategi paling sesuai untuk mengembangkan jaringan franchise. Program franchise termasuk menetapkan term tepat dari penyusuna franchise, termasuk, wilayah, suplai produk, pelatihan dan dukungan, hak dan kewajiban franchisor dan franchisee, biaya franchise dan pengadaan iklan.

Langkah ketiga. Pengembangan dokumentasi franchise

Langkah ketiga melibatkan pengembangan dokumentasi penting bagi sistem. Dokumentasi waralaba khas yang butuh dikembangkan termasuk:

1. Pengoperasian manual

2. Urutan induksi franchise

3. Dokumen profil franchise

4. Dokumen perjanjian franchise

Langkah Empat. Implementasi dan Rekrutmen

Langkah keempat ini mensyaratkan pengembangan strategi yang paling cocok untuk diimplementasikan pada program franchise. Strategi tersebut akan termasuk arahan pada pemasaran franchise dan rekrutmen franchisee yang cocok.

Bagaimanapun, implementasi sistem bukanlah akhir dari proses. Sebagai franchisor area tanggung jawab Anda akan meliputi kesejahteraan, tidak hanya bisnis asli, tetapi dilanjutkan dengan kelanjutan hidup sistem franchise dan franchisee Anda.

Alasan-alasan penting penyebab sistem franchise yang gagal:

1. ketamakan franchisor

2. Miskin seleksi pada franchisee

3. Miskin pelatihan bagi franchisee

4. Kurang pengembangan produk yang berkelanjutan

5. Ekspansi yang terlalu kencang

6. Miskin pengawasan pada performance franchisee

7. Kurang prosedur penyelesaian konflik yang sesuai

Sumber: www.franchisecentral.com.au

Rabu, 31 Oktober 2007

Kisah Pengusaha Sukses

BANDUNG - Pendidikan sekolah tak selalu menjamin kesuksesan seseorang. Sudah banyak contoh orang-orang sukses tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi. Yoyo Saputra, salah satu contohnya.

Lelaki kelahiran Ciamis, Jabar, 41 tahun lalu ini hanya memiliki ijazah setingkat SD. Namun dengan bekal pendidikan yang pas-pasan itu, kini Yoyo mampu menjadi wirausahawan yang sukses.
Usaha yang ditejuni oleh Yoyo adalah memproduksi suku cadang mesin-mesin industri yang terbuat dari karet dan plastik. Memang kesuksesan Yoyo ini tidak datang secara tiba-tiba. Prosesnya cukup panjang.
Dimulai pada tahun 1982 ketika Yoyo nekat meninggalkan tanah kelahirannya di Ciamis. Tanpa bekal apa-apa, Yoyo yang baru lulus SD ini merantau ke Bandung. Tujuannya untuk bekerja.
“Saya diterima kerja menjadi buruh perusahaan yang membuat suku cadang mesin yang terbuat dari karet,” kata Yoyo ketika ditemui SH di rumahnya di kawasan Kiara Condong PSM Bandung.
Yoyo padahal sama sekali awam dengan pekerjaan yang ditekuninya saat itu. Beruntung Yoyo tergolong orang yang mau belajar. Lambat laun Yoyo pun mulai bisa mencetak sendiri suku cadang mesin yang terbuat dari karet seperti kopel dan poli eretan maupun selang. Kemampuannya itu terasah secara otodidak.
Di tempat kerjanya, Yoyo belajar lebih banyak lagi. Tidak sekadar hanya belajar membuat produk, tapi mulai belajar mencari order pesanan. Menurut Yoyo, dirinya memiliki pengalaman tak terlupakan kala coba-coba mencari order sendiri. Sebagai ongkos untuk pergi mencari order ke Jakarta, Yoyo harus melego jaket kulit kesayangannya. Yoyo lupa jaket kulit miliknya saat itu laku terjual dengan harga berapa. Yang pasti, kenang Yoyo, uang dari penjualan jaket kulit hanya cukup untuk ongkos berangkatnya saja.
Untuk kembali ke Bandung, Yoyo harus mencari tumpangan secara gratis. “Waktu itu saya gagal. Ternyata tidak gampang mencari order,” aku Yoyo.
Kegagalan di pengalaman yang pertama tak membuat Yoyo patah arang. Yoyo tetap terus berusaha. Hingga akhirnya, ia memperoleh order sendiri. Setelah dirasa punya cukup pengalaman, Yoyo keluar dari pekerjaannya.
Yoyo memberanikan diri untuk membuka usaha yang sama pada tahun 1985-an. Karena tidak mempunyai modal, Yoyo membuka usaha dengan uang pinjaman sekitar Rp 200.000. Dengan uang pinjaman ini, Yoyo membeli mesin press bekas.
Karena sudah mulai banyak dikenal, tidak sulit baginya untuk mendapatkan order pesanan. Pesanan pertama yang diterimanya kala itu adalah membuat semacam terminal las serta klep pompa air. Pesanan pertama ini dikerjakannya dengan baik hingga membuat si pemesan puas.
Menurut Yoyo, dirinya punya prinsip membuat produk yang kualitasnya baik dengan tepat waktu seperti yang diinginkan oleh pihak pemesan.
Dengan prinsip ini, lambat laun pesanan yang diterimanya terus bertambah. semakin banyak pemesan yang percaya pada dirinya. “Modal saya pas-pasan. Makanya saya selalu minta uang muka dari pemesan. Uang muka itu saya pakai untuk membeli bahan baku karet,” tutur Yoyo.

Hasil Kerja Keras
Kerja keras dari Yoyo mulai berbuah kesuksesan. Ketika krisis moneter melanda negeri ini sekitar tahun 1997-an, usaha yang dirintis oleh Yoyo terbukti mampu bertahan. Saat itu pesanan yang datang justru berlipat-lipat jumlahnya.
Sayangnya tidak semua pesanan mampu dipenuhinya. Harga bahan baku karet yang naik hingga 300 persen merupakan penyebabnya. Yoyo mengatakan banyak pemesan yang keberatan ketika harga produknya dinaikkan, pPadahal dengan naiknya harga bahan baku karet, sulit bagi Yoyo untuk tidak ikut menaikkan harga.
Sampai sekarang harga bahan baku karet yang terus naik selalu menjadi masalah bagi Yoyo. Di awal tahun 2005 lalu, harga bahan baku karet kembali naik hingga 10 persen. Bukan hanya harga saja yang naik, Yoyo pun ternyata harus menanggung pajak PPn untuk semua karet yang dibelinya.
Pengenaan pajak ini dikeluhkan oleh Yoyo. “Usaha saya ini usaha kecil, masak diberlakukan sama dengan industri besar, harus membayar PPn juga,” ujar suami dari Ratna Sulastri ini. Pengenaan PPn berikut harga bahan baku karet yang terus naik menjadi masalah bagi kelangsungan usaha yang dirintis oleh Yoyo.
Pasalnya, tidak semua pemesan mengerti. Ketika Yoyo harus menaikkan harga produknya, sebagian besar pemesan membatalkan pesanannya. Hingga akhirnya Yoyo harus bersiasat untuk menentukan harga.
Menurut Yoyo kalaulah harga produknya naik, kenaikan harga tidak dapat serta-merta mengikuti kenaikan harga bahan baku. Paling-paling yang dilakukannya adalah menekan keuntungan. “Dapat untung antara 10 persen-15 persen sudah bagus,” katanya.
Kalau Yoyo coba-coba cari untung lebih banyak, pihak pemesan bakal beralih ke tempat lain. Maklum, usaha sejenis seperti yang ditekuni oleh Yoyo jumlahnya sekarang sudah sangat banyak.
Persaingan di antara mereka semakin ketat. Yoyo menyikapi persaingan ini dengan cara wajar. Yoyo mengatakan kalau kemudian pihak pemesan mengalihkan order ke yang lain, berarti hal itu memang bukan rezekinya. Sikap pasrah ini justru membuat Yoyo selalu berlapang dada.
Toh pesanan selalu mengalir. Nama Yoyo yang telah dikenal sepertinya menjadi jaminan. Terlebih lagi Yoyo berani bersaing dengan menawarkan produk yang berkualitas serta menyelesaikan pesanan tepat waktu sesuai keinginan si pemesan.
Kini, Yoyo memang mulai menikmati kesuksesannya. Pesanan yang terus datang, sebanyak 11 mesin pres dan mesin bubut yang dimiliki serta 7 pekerja yang membantunya menjadi indikator kesuksesan usaha milik Yoyo.
Omzet sebesar Rp 25 juta/bulan adalah indikator lain dari keberhasilan Yoyo merintis usahanya. Semua keberhasilan ini tak membuat Yoyo cepat berpuas diri. (SH/didit ernanto)

Kecerdasan Emosi Wirausaha

Tidak selalu mudah menentukan pilihan bidang usaha
yang tepat, yang sesuai dengan kemampuan, bakat, minat,
talenta, dan potensi Anda. Sebab semua hal itu harus dapat
dikaitkan dengan kebutuhan pasar yang nyata, suatu hal
yang memerlukan kemampuan berempati, menyadari
perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain.


Kesulitan pertama yang muncul ketika seseorang memutuskan untuk menjadi wirausaha adalah mendapatkan peluang usaha yang cocok, yang sesuai dengan situasi dirinya, atau mendapatkan ide-ide yang dapat dikembangkan menjadi suatu usaha nyata. Ada dua hal yang penting disini : kecakapan pribadi dan kecakapan sosial.

Kecakapan pribadi menyangkut soal bagaimana kita mengelola diri sendiri. Tiga unsur yang terpenting untuk menilai kecakapan pribadi seseorang adalah: pertama, kesadaran diri. Ini menyangkut kemampuan mengenali emosi diri sendiri dan efeknya, mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri, dan keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri atau percaya diri. Kedua, pengaturan diri. Ini menyangkut kemampuan mengelola emosi-mosi dan desakan-desakan yang merusak, memelihara norma kejujuran dan integritas, bertanggung jawab atas kinerja pribadi, keluwesan dalam menghadapi perubahan, dan mudah menerima atau terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan informasi-informasi baru. Dan ketiga, motivasi. Ini menyangkut dorongan prestasi untuk menjadi lebih baik, komitmen, inisiatif untuk memanfaatkan kesempatan, dan optimisme dalam menghadapi halangan dan kegagalan.

Kecakapan sosial menyangkut soal bagaimana kita menangani suatu hubungan. Dua unsur terpenting untuk menilai kecakapan sosial seseorang adalah: pertama, empati. Ini menyangkut kemampuan untuk memahami orang lain, perspektif orang lain, dan berminat terhadap kepentingan orang lain. Juga kemampuan mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan. Mengatasi keragaman dalam membina pergaulan, mengembangkan orang lain, dan kemampuan membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan, juga tercakup didalamnya. Kedua, keterampilan sosial. Termasuk dalam hal ini adalah taktik-taktik untuk meyakinkan orang (persuasi), berkomunikasi secara jelas dan meyakinkan, membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok, memulai dan mengelola perubahan, bernegosiasi dan mengatasi silang pendapat, bekerja sama untuk tujuan bersama, dan menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan kepentingan bersama.

Dengan kata lain keberhasilan menjadi wirausaha itu berkaitan erat dengan kecerdasan dan kecakapan emosi seseorang, suatu hal yang banyak diuraikan Daniel Goleman dalam karya-karyanya. Atau sekurang-kurangnya kita dapat mengatakan bahwa untuk menjadi wirausaha sukses diperlukan kecerdasan intrapersonal (kecakapan pribadi) dan kecerdasan interpersonal (kecakapan sosial).

Bahwa kecerdasan intrapersonal atau kecakapan pribadi merupakan hal penting dalam memilih bidang usaha nampak jelas dari pengalaman dan keberhasilan pada digital entrepreneur seperti Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft), Michael Dell (Dell Computers), Jeff Bezos (Amazon.com), Sabeer Bathia (Hotmail.com), Abdul Rahman dan Budiono Darsono (Detik.com), John Tumiwa dan Jerry (AsiaGateway.com), Adi (Indomall.or.id), Wiro dan Korpin (Datakencana.com), dan Hardi (Indomall.com). Sebab sebagaimana telah saya paparkan dalam buku Berwirausaha Dari Nol (Gramedia Pustaka Utama, 2000), mereka semua memilih bisnis di alam maya sebagai pengembangan dari kesenangan atau hobi "bergaul" dengan komputer. Juga terlihat dalam kisah sukses kolektor sepatu eksklusif Linda Chandra yang memilih usaha sesuai hobinya sejak kecil itu. Nilasari dan Theresia Juliaty berhasil mengembangkan hobi memasak kue menjadi bisnis yang menguntungkan. Riyanto Tosin dan Iwan Gayo menyenangi bidang pendidikan dan sukses dalam usaha menulis, menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku pendidikan. Dale Carnegie menjadi kesohor karena kesenangannya menulis dan mengajar dikelola menjadi buku laris How To Win Friend and Influence People, How To Stop Worrying and Start Living, dan mendirikan Dale Carnegie Training. Stephen Covey menjadi terkemuka karena berhasil mengolah kesenangannya melakukan studi pustaka dan merajutnya menjadi karya-karya besar yang menggoncang dunia, The 7 Habits of Highly Effective People, The 7 Habits of Higly Effective Family, Living The 7 Habits, Principle-Centered Leadership, dan mendirikan Covey Leadership Center.

Jadi langkah pertama dalam memilih bidang usaha adalah menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti :
• Apakah Anda mengenali emosi-emosi diri dan dampak yang ditimbulkannya dalam diri Anda? Apa yang membuat Anda senang, gembira, atau sedih?
• Apakah Anda mengetahui kekuatan-kekuatan pribadi Anda, bakat, talenta, pengetahuan, dan keterampilan yang telah Anda kembangkan serta batas-batasnya?
• Dalam hal apa Anda memiliki keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri (percaya diri)?
• Seberapa jauh Anda mampu mengendalikan diri dalam mengelola desakan-desakan hati yang merusak?
• Apakah Anda memiliki sifat dapat dipercaya, jujur dan menunjukkan integritas?
• Seberapa jauh Anda merasa bertanggung jawab atas hasil-hasil yang Anda peroleh selama ini (kinerja pribadi)?
• Apakah Anda menunjukkan keluwesan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang tak terhindarkan?
• Apakah Anda terbuka dan menerima pendapat, gagasan, dan informasi-informasi baru untuk berinovasi?
• Seberapa jauh Anda memiliki dorongan yang kuat untuk maju, meningkatkan taraf hidup dan kualitas hidup Anda?
• Seberapa jauh Anda mampu menyesuaikan diri dengan kelompok?
• Seberapa jauh Anda mempersiapkan diri untuk mengambil atau memanfaatkan kesempatan?
• Seberapa gigih Anda menghadapi halangan dan kegagalan dalam mencapai cita-cita pribadi Anda?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan tingkat kecerdasan intrapersonal atau kecakapan pribadi seseorang. Tetapi untuk menjadi wirausaha kita tidak dapat berhenti sampai disitu. Sebab diperlukan kecerdasan interpersonal atau kecakapan sosial untuk melengkapinya. Dalam hal ini kecerdasan intrapersonal menjadi fondasi dari kecerdasan interpersonal, kecakapan pribadi merupakan landasan untuk mengembangkan kecakapan sosial, etika karakter menjadi tumpuan etika kepribadian. Itulah yang ditunjukkan oleh kisah-kisah wirausaha sukses tersebut di atas.

Bill Gates tahu betul bahwa ia cerdas dalam menyusun program-program komputer (software). Tapi hal itu tidak cukup untuk menjadi wirausaha. Ia juga harus memahami keinginan, kebutuhan, dan kepentingan pasar global terhadap teknologi komunikasi informasi yang mudah dipahami (user friendly). Kemampuannya berempati dengan keinginan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain itulah yang membuat Microsoft selalu menawarkan produk-produk yang relatif mudah dipergunakan untuk berbagai kepentingan konsumennya.

Michael Dell sadar sekali bahwa sejak usia remaja ia menyukai metode pemasaran langsung ke pelanggan (end users), tanpa perantara. Dan ia belajar sungguh-sungguh untuk memanfaatkan teknologi komputer sekaligus sebagai sarana memasarkan secara langsung (direct marketing). Sebab hal ini dapat menekan biaya, sehingga konsumen diuntungkan. Pemasaran langsung juga memungkinkan Dell menjalin hubungan yang erat untuk mendapatkan masukan atau bahkan melibatkan konsumen dalam proses inovasi produk-produknya (relationship marketing). Ada pemahaman yang kuat mengenai kebutuhan, keinginan, dan kepentingan konsumen yang dilayaninya. Ada minat yang kuat untuk berempati dan menawarkan solusi yang saling menguntungkan (win win solution).

Budiono Darsono sadar betul bahwa ia mahir dalam menjalankan fungsi sebagai redaktur media cetak. Pengalamannya di majalah TEMPO dan tabloid DeTik, misalnya, menunjukkan bakat-bakatnya yang terbaik. Masalahnya ia melihat adanya kebutuhan, keinginan, dan kepentingan pembaca media di Indonesia untuk mendapatkan berita aktual sedini mungkin. Soalnya adalah bagaimana memuat berita tentang peristiwa penting yang terjadi hingga pukul enam sore, agar dapat diketahui pembaca pada pukul delapan malam, hari yang sama (sementara media cetak baru muncul esok pagi). Jawabnya adalah membuat media online di internet. Maka dengan modal nekad dan uang 30-an juta rupiah (sementara untuk mendirikan media cetak diperlukan investasi miliaran rupiah) lahirlah situs Detik.com. Bahkan mulai Februari 2000 Detik.com dikembangkan menjadi bisnis portal dan bukan sekadar media digital.

Dalam bentuknya yang populer, kecerdasan interpersonal dan kecakapan sosial ini umumnya di subkontrakkan menjadi apa yang galib disebut survei dan riset pasar. Intinya sama, yakni mengetahui keinginan, kebutuhan, dan persepsi segmen pasar yang ingin dibidik dan mengkaji kemungkinan menangguk keuntungan dari segmen pasar tersebut.

Jadi, bagaimana memilih bidang usaha yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan kemampuan pribadi Anda? Pertama, gunakanlah kecerdasan intrapersonal dan kecakapan pribadi Anda. Untuk itu pakailah pertanyaan-pertanyaan sebelumnya sebagai bahan refleksi, melakukan perjalanan ke dalam diri Anda sendiri. Hal ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi (atau kelompok), tak bisa digantikan oleh siapapun juga. Ketahuilah secara pasti apa produk atau jasa yang dapat Anda tawarkan kepada orang lain (sebagai solusi terhadap masalah tertentu), yang sesuai dengan minat, bakat, talenta, dan hobi Anda.

Kedua, gunakanlah kecerdasan interpersonal dan kecakapan sosial Anda untuk berempati, memahami kebutuhan, keinginan, kepentingan, dan permasalahan segmen pasar tertentu. Sepanjang dimungkinkan, lakukan survei dan riset pasar. Kalau modal usaha Anda memadai subkontrakkan hal ini pada para ahlinya. Kalau modal usaha Anda pas-pasan, lakukan saja sendiri. Kunjungi pasar-pasar tradisional dan modern, hadiri pameran-pameran, wawancarai orang-orang yang menurut Anda memahami hal yang ingin Anda ketahui, dan seterusnya.
Google
 

WELCOME

Professional dalam Pelayanan

Property Yang Anda Harapkan?

Life Nice

Life Nice
Kediaman Dekat Perairan Sungguh Menakjubkan

Contact Us

panduan-mendapatkan-property.blogspot.com

Jl. Prabu Siliwangi X, no 33 Sukaharja Telukjambe,
Karawang 41313 – Jawa Barat -Indonesia 14440
Telp: (021) 98844249 / 085697369787
Email: cepiar.arc@Gmail.com

Profil Perusahaan

Visi CCG: Menjadi Perusahaaan Kelas dunia Yang bergerak di bidang real estate, serta berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan ummat manusia. Kegiatan Usaha meliputi Perdagangan, Perindustrian, dan Jasa.