Tampilkan postingan dengan label wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wirausaha. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Oktober 2007

Limbah Yang Menghasilkan Duit



Tas kresek, kaleng dan kertas bekas, sampah organik atau barang lainnya adalah barang yang tak berguna dan pantas dibuang. Demikian, persepsi yang kerap muncul dihampir sebagian besar masyarakat umumnya termasuk kita. Namun, di era gaya hidup hijau, refuse, refill, recycle atau back to nature, barang tersebut menjadi sesuatu yang berharga. Barang yang tidak berguna tersebut bisa diolah menjadi produk consumer goods, pertanian, handycraft, otomotif , biogas dan sebagainya.

Di sekitar, banyak sekali sampah atau limbah yang bisa dioptimalkan. Dari hal yang paling kecil seperti kertas bekas, keleng susu, bekas oli mobil, kotoran sapi/kerbau hingga sampah rumah tangga. Limbah bisa disulap menjadi sebuah bisnis baik yang berskala kecil maupun besar, dari UKM hingga manufaktur.

Kertas bekas, misalnya. Barang ini bisa diolah menjadi bahan baku kertas bermutu setelah melewati proses manufaktur yang melibatkan modal besar. Kaleng susu, kaleng oli, bisa disulap menjadi produk antene wireless LAN. Limbah oli bisa menjadi bisnis yang besar, karena bahan dipakai sebagai bahan baku sebuah produsen oli nasional. Atau, sampah rumah tangga, umpamanya, bisa dibuat pupuk organik yang dapat menyuburkan tanaman. Tas kresek—palstik red--lewat proses sederhana bisa diolah menjadi biji plastik untuk bahan baku di pabrik-pabrik kimia. Diluar yang kami sebutkan, tentu masih banyak lagi. Kotoran hewan, serat singkong atau limbah tebu, ternyata dapat diolah menjadi produk styrofoam menggantikan bahan kimia seperti polistiren. Ampas tebu, kini dipakai sebagai bahan baku kampas rem kendaraan.

Sebagai pembaca, Anda tentu sudah banyak mengetahui tentang kisah sukses para pengusaha yang menekuni bisnis limbah ini. Banyak di antaranya kini telah menjadi jutawan atau milyarder. Kami yakin hal ini. Pasalnya, ketika sedang melakukan kegiatan jurnalistik di lapangan, kami menemukan fakta bahwa banyak produk yang berasal dari barang limbah ini. Dan, lagi, para pelaku bisnisnya, telah menikmati dari buah kreatifitasnya tersebut.

Joko Santosa, misalnya. Pengusaha asal Jogjakarta ini jeli melihat peluang bisnis kertas bekas. Usaha ini dimulai saat dia berprofesi sebagai pencari barang-barang bekas (gresek—Jawa red) di pasar. Intuisi bisnisnya muncul. Melihat jumlah kertas yang berjibun, barang tersebut lalu dikumpulkan dan dijual ke pabrik daur ulang untuk dijadikan kertas. Joko telah menikmati hasil lebih dari cukup dari bisnisnya ini.

Mully Remouldi, memiliki cerita lain lagi. Pengusaha asal Bandung itu membuat produk-produk illuminate lights dan lampu dari bahan kain dan kertas daur ulang. Produk-produk seperti lampion, kap lampu, lampu stand dan beberapa lagi lainnya telah diekspor ke manca negara di antaranya Australia dan Jerman. Di pasar domestik, kreatifitas Mully bisa dijumpai di Grand Tarakan Mall, Kalimantan Timur, PT HM Sampoerna Tbk dan beberapa lagi lainnya.

Di bidang teknologi informasi kita mengenal Muhammad Salahuddien Manggalany atau yang akrab dipanggil Didin. Pengusaha asal Malang, Jatim, ini berhasil membuat antene wireless LAN dari bekas kaleng susu. Meski belum di publikasikan secara gencar, antene sederhana itu cukup membantu jagad internet di Tanah Air. Perusahaan jasa Internet Service Provider (ISP) mengembangkan jasa layanannya lewat teknologi nirkabel dimana fungsi antene sangat diperlukan. Didin kerap diundang oleh berbagai perusahaan di luar kota untuk memasang antene ciptaannya.

Bisnis limbah, termasuk bisnis yang tidak njlimet. Hanya ditangan orang-orang kreatiflah barang tidak berguna tersebut akan berubah menjadi produk bermutu dan bernilai jual tinggi.

Sukses Wirausaha di Bidang Pemasaran

Seandainya semua orang mau bekerja sebagai tenaga pemasaran, maka tidak akan ada pengangguran di negeri ini. Banyak sekali perusahaan yang membutuhkan tenaga pemasaran seperti perusahaan properti, perusahaan asuransi, perusahaan otomotif, dan bahkan perusahaan yang memasarkan berbagai produknya dengan sistem multi level marketing membutuhkan tenaga-tenaga marketing yang sekaligus menjadi entrepeneur.

Sebagian orang beranggapan bahwa bekerja harus menjadi karyawan di kantor atau pabrik, dengan posisi tertentu dan mendapatkan gaji tetap setiap bulannya. Pekerjaan yang bukan dengan sistem gajian menjadi tidak menarik bagi mereka. Menjadi tenaga pemasaran atau wiraniaga selalu dipandang sebelah mata, karena tidak ada gaji dan hanya mengandalkan komisi atau bonus, kalaupun ada paling-paling hanya uang transport atau uang makan.

Ujung tombak dari setiap kegiatan usaha adalah pemasaran, dan berlaku untuk semua usaha baik itu penghasil barang ataupun jasa. Tanpa pemasaran yang baik, perusahaan hanya seperti menunggu durian runtuh, yaitu menunggu keajaiban datang berupa ”order” dan baru bisa berproduksi berdasarkan order yang kebetulan datang.

Banyak cara orang gunakan untuk sukses menjadi entrepeneur atau wirausaha, namun cara yang terbanyak adalah memulai berproduksi dengan menggunakan modal. Meskipun ditopang dengan modal yang cukup, cara seperti ini biasanya tidak menjamin kesuksesan.

Memulai sebuah usaha memerlukan keberanian, namun keberanian saja tidak cukup, beberapa orang terlalu optimis dengan modal dan keberanian, namun ketika kegagalan datang, keberanianpun hilang.

Konsep sukses tanpa modal adalah memulai usaha dengan berangkat dari kemampuan seadanya ditambah keberanian untuk memulai, sekaligus siap berproses dengan kemungkinan gagal, bahkan dengan tanpa uang sekalipun atau modal Rp.0,-

Banyak cara bisa dilakukan orang untuk memulai menjadi entrepeneur, kesempatan terbesar yang pasti bisa dilakukan oleh siapa saja dengan tanpa modal adalah menjadi tenaga penjualan atau wiraniaga. Masalahnya sebagian besar orang tidak tertarik dengan profesi ini. Bahkan sekali, dua kali mencoba gagal, mereka langsung memvonis dirinya sendiri dengan predikat ”tidak bakat dagang”

Kenapa dengan dua, tiga kali gagal dan jatuh, manusia memvonis dirinya tidak bakat.

Sementara bayi untuk bisa berdiri saja harus belajar duduk, kemudian merangkak dan ratusan bahkan ribuan kali terjatuh. Apalagi untuk belajar jalan kemudian berlari, pasti susah sekali kita menghitung berapa kali bayi itu terjatuh bahkan hinga terluka untuk bisa berjalan dan berlari.
Google
 

WELCOME

Professional dalam Pelayanan

Property Yang Anda Harapkan?

Life Nice

Life Nice
Kediaman Dekat Perairan Sungguh Menakjubkan

Contact Us

panduan-mendapatkan-property.blogspot.com

Jl. Prabu Siliwangi X, no 33 Sukaharja Telukjambe,
Karawang 41313 – Jawa Barat -Indonesia 14440
Telp: (021) 98844249 / 085697369787
Email: cepiar.arc@Gmail.com

Profil Perusahaan

Visi CCG: Menjadi Perusahaaan Kelas dunia Yang bergerak di bidang real estate, serta berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan ummat manusia. Kegiatan Usaha meliputi Perdagangan, Perindustrian, dan Jasa.